Kekayaan yang sejati ialah pada saat kita bersyukur selalu dan kemiskinan ialah pada saat kita mengeluh selalu
Showing posts with label PASTORAL. Show all posts
Showing posts with label PASTORAL. Show all posts

Sunday, September 9, 2012

PENGAMPUNAN



Kenapa ingin menulis judul ini, ada suatu yang menurut pandangan saya. "Kasih sudah mulai Pudar". 
jadi saya bisa berstatment bahwa tidak bisa mengampuni, karena hatinya terluka. Pada saat terluka tidak adanya pemberesan, Mulailah Kasih itu Pudar, dan menjadi akar Pahit dalam dirinya. 
Dalam Judul ini saya hanya meringkas dari beberapa buku yang saya baca, atau merisetnya menjadi sebuah Rangkuman, sumber sudah ada pada daftar pustaka pada akhir ringkasan ini.



Dalam judul yang diberikan yaitu tentang pengampunan, jadi apa sih pengampunan itu? Ada beberapa orang yang memberikan statement tentang pengampunan, ada beberapa yang suka dan saya mengambilnya sebagai beberapa pengertian tentang “Pengampunan.”
- menurut (Fred Luskin)
“Pengampunan berarti bahwa walaupun anda terluka, anda memilih untuk tidak terlalu merasa terluka&berduka.”

- menurut (Oscar Wilde)
“Ampunilah musuh-musuh anda senantiasa, karena tidak ada hal yang begitu mengangu mereka.”

- menurut (Anonim)
“Pengampunan adalah melepaskan hak saya untuk menyakiti anda karena anda telah menyakiti saya.”

Jadi bisa disimpulkan, Pengampunan pada saat kita terluka kita bisa memaafkan mereka, dengan senantiasa karena melepaskan hak kita untuk tidak menyakiti seseorang atau bisa disebut juga dengan tidak balas dendam.

Didalam buku “For Give to Live” ada tentang 10 Prinsip pengampunan.
(Pengampunan dimulai ketika Kita)
1. Menerima bahwa hidup ini tidak adil, dan bahwa orang lain mungkin memiliki peraturan yang berbeda dari kita.
2. Berhenti menyalahkan orang lain atas keadaan kita.
3. Memahami bahwa anda tidak dapat mengubah orang telah menyakiti kita; kita hanya dapat mengubah diri sendiri
4. Mengakui amarah & luka batin yang disebabkan oleh peristiwa yang tidak menyenangkan bahkan menyakitkan.
5. Merangkai kembali kisah anda yang menyakitkan “Kisah tentang kepedihan hati, dengan menempatkan peristiwa-peristiwa yang menyakitkan didalam konteks yang lebih luas dalam sudut pandang saat ini.
6. Menyadari bahwa hanya anda sendirilah yang dapat mengambil keputusan untuk mengampuni
7. Mengubah pandangan anda mengenai musuh anda dengan rendah hati memilih untuk berempati terhadap keadaanya.
8. dengan sadar bergerak dari ketidak bahagian menuju kebahagian.
9. Memahami bahwa pengampun memerlukan waktu, dan tidak dapat dilakukan dengan tergesa-gesa.
10. Bertanggung jawab atas hidup & masa depan anda sendiri.

Komentar : “saya setuju dengan kalimat no.6 bahwa mengampuni adalah keputusan kita bukan dari orang lain/disuruh tetapi keputusan kita dari ketulusan kita untuk mengampuni.”

Ada beberapa langkah untuk mengampuni orang lain pada peristiwa-peristiwa masa lalu yang membuat hati kita sakit atas yang diperbuatnya karena kita mengingatnya, ada enam langkah :

- Fokuslah pada hal yang benar tentang peristiwa itu dari sudut pandang kita, dan persektif orang yang bersalah itu.
Cobalah untuk menjadi posisi orang itu, dan kita lihat dari sudut pandang yang baik, karena jarang ada satu pihak sepenuhnya bersalah, dan yang lain benar-benar tidak bersalah, jadi lihat dari sudut pandang kita yang positif.

- Bangunlah empati terhadap orang menyakiti kita.
Dalam Berampati berarti kita mencoba untuk memahami seseorang yang mungkin mengerakan perilaku untuk menyakitkan hati orang lain atau mungkin kita, dengan berempati jadi kita melihat bahwa orang itu hanya orang biasa seperti kita, bisa mengecewakan, dan menyenangkan.

- Kenalilah kesalahan yang pernah kita perbuat yang perlu diampuni.
Dengan mengenal kesalahan-kesalahan kita, yang kita juga pernah perbuat, jadi kita juga butuh pengampunan dari seseorang, dan kita telah diampuni, justru kita harus berlapang dada untuk orang yang telah menyakiti kita karena dengan keinginan ini kita menunjukan tingkat kerendahan hati kita kalo kita juga butuh pengampunan dari orang lain.
- Perbaikilah kisah kita sehingga secara lebih akurat mencerminkan sudut pandang orang yang bersalah itu dan juga orang yang terlukai.
Jika kita dalam sudut pandang dua posisi, yang mencerminkan orang yang bersalah dan juga orang terluka, mereka mempunyai alasan mereka masing-masing yang membuatnya seperti itu, jadi kita membutuhkan pengampunan maupun yang bersalah, dan juga yang terlukai.

- Pandanglah tujuan hidup kita, dan ambillah langkah-langkah untuk mencapainya.
Kita semua ingin mencapai sesuatu tujuan, dan kita harus mempunyai langkah tersebut, tetapi langkah tersebut dihalangin dengan kepahitan, kemarahan, kedendaman yang membuat kita memikirkan hal yang tidak berguna, secara sederhana lakukan yang berguna dan berhentilah melakukan/memikirkan hal yang tidak berguna, karena dengan mengampuni kita melepaskan semua hal-hal yang tidak berguna, dan hal-hal yang ada dalam pikiran kita yang tidak berguna.

- Sadarilah bahwa pengampunan membutuhkan waktu; pengampunan hampir tidak bisa dicapai dengan satu usaha saja.
Dalam hal mengampuni kita butuh latihan, dan latihan ini membutuhkan waktu untuk mengampuni/memaafkan kesalah orang lain yang membuat kita sakit hati, jarang seseorang mengampuni hanya dalam waktu sekejap yang tidak diikuti oleh munculnya kembali pikiran serta perasaan yang lama, dan negative itu dikemudian hari. Dan mungkin memerlukan waktu dalam peristiwa tertentu, dan kita butuh belajar untuk mengampuni mungkin pada saat ini kita perlu belajar mengampuni dan selamanya kita harus mengampuni.

- Mengampuni, dan mendapatkan Pengharapan demi masa Depan.
(Ada Statement yang berkata “Tidak ada masa depan tanpa Pengampunan”)
Hubungan antara pengampunan, dan pengharapan, terkait dan tidak bisa dipisahkan karena pengampunan itu akan melahirkan pengharapan yang baru, dan mengetahui bahwa pengampunan menuju hal yang lebih baik menuju masa depan yang kita kehendaki dari pada hidup yang terbelengu dengan sakit hati, dendam, dll pada masa lalu kita yang tidak kita kehendaki menjadi racun bagi hidup kita.

Pengampunan juga menuntun kita untuk memahami pikiran, dan membangun kembali impian kita. Pengampunan juga memiliki kekuatan untuk melepaskan kita dari semua luka yang terjadi pada masa lalu agar kita mempunyai semangat baru untuk meraih masa depan kita. Pengampunan kemungkinan terjadi awal hidup yang menyegarkan. Pengampunanlah yang mengubahnya semua ini untuk mendorong kita menjadi optimisme yang menguatkan tentang masa depan.
Pada saat kita mengampuni dan pengharapan muncul jadi kedua ini saling berkaitan langkah demi langkah, dan itulah pada saat Mengampuni dan Pengharapan baru muncul, pada saat pengharapan Muncul kita bisa menatap masa depan yang lebih baik.

Beberapa peringatan penting
Berbuat salah adalah bagian dari diri manusia. 
Hargailah kesalahan anda sebagaimana adanya:
Pelajaran hidup berharga yang hanya dapat dipelajari dengan susah.
Kecuali jika itu kesalahan fatal, yang paling tidak, dapat dipelajari orang lain.

- Al Franken
Ada beberapa yang peringatan penting :
1. Ketika pengampunan diberikan terlalu dini mungkin itu justru bukan pengampunan. Mungkin itu hanya tidakan untuk menghindar.
Pengampunan dalam hal ini malahan mempermudah orang untuk menyembunyikan rasa sakit hati yang sesungguhnya, pengampunan dini justru tetap membiarkan kita terbelenggu dalam sakit hati kita, karena pengampunan dini terjadi tentang peristiwa yang dengan cepat ”dimaafkan” dan diabaikan, padahal didalam hatinya masi ngomongin orang yang berbuat salah kepadanya dari belakang, dan menjadi tidak sehat dengan cara tersebut kita menyimpan sakit hati kita dari kebohongan dengan tidak apa-apa, saya sudah maafkan, padahal masi ada bekas yang tersembunyi bahaya itu.

2. Pengampunan bukanlah pengampunan jika dimanfaatkan sebagai alat untuk meninggikan diri.
Dalam hal ini ada orang yang mencari kesalahan orang lain agar ia dapat berkata, ”Aku memaafkanmu,” dengan cara inilah mereka akan meninggikan dirinya dari orang lain, karena ini kayak cara licik begitu dengan memutarbalikan fakta, jadi berhati-hatilah, karena pengampunan dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk meninggikan diri. Bentuk kata maaf ini kaya seperti memperebutkan kedudukan, atau mereka yang menjabat kedudukan yang tinggi, bukan merupakan sesuatu ketulusan.

3. Ada orang yang memakai pengampunan sebagai senjata untuk membalas dendam.
Pengampunan juga bisa menjadi senjata karena dengan menyatakan kesalahan orang lain, atau merupakan cara untuk merespons kesalahan yang telah dilakukan, dan bukan alat untuk membuat orang lain tampak bersalah.

4. Menghindari pengampunan yang membuat anda mengingkari perasaan anda.
Pada saat kita memberi pengampunan kepada orang, setelah itu tidak menjadi akrab, atau malahan menghindar, dan tidak ada komunikasi, pengampunan seperti itu salah karena menginkari perasaan kita.

5. Beberapa jenis pengampunan melunakkan konflik yang terjadi saat itu justru mengorbankan harga diri atau kebaikan diri seorang, dan dapat membuatnya kembali menjadi korban.
Dalam hal ini juga kita mengampuni tetapi dengan harga diri kita direndahkan, jadi hal ini malahan melemahkan jati diri kita, dan merasa tidak berharga lagi.
Setelah mengampuni seharusnya timbul damai sejahtera, bukan tekanan jadi hati-hati.

6. Waspadailah tekanan mengampuni dari pihak luar.
Hal seperti ini juga sangat sering dilakukan orang-orang, karena mungkin disuruh pacarnya/sahabatnya maafin si A, atau maafin si B, karena si A, atau si B baik orangnya kepada pacarnya, jadi kehendak pacarnya, bukan kehendak dirinya sendiri, padahal masi jengkel. ini juga salah karena mengampuni didesak oleh orang lain.

7. Jangan mengampuni demi kepentingan orang lain.
Hal ini juga sangat sering, mungkin dalam hal bisnis dia mengampuni demi usaha tuannya, demi usaha pabrik yang dia kerja dengan seseorang, atau demi kebaikan orang lain dia mengampuni, ini juga tidak baik.

8. Jangan mengampuni jika nantinya kita akan semakin merasa bersalah.
Pada saat kita memberi maaf, tapi malahan kita merasa sangat bersalah dalam hal ini kita menjadi menyalahkan diri kita sendiri terus menerus ini juga tidak membawa pikiran damai malah bersalah.
(Pengampunan tidak membuat orang lain benar, tetapi membebaskan kita dari penderitaan)
Kesan: dalam dalam membaca buku-buku, menjadi mengerti tentang pengampunan, pengampunan yang harus benar dari ketulusan kita, bukan karena paksaan, bukan karena pihak lain, tetapi pengampunan itu keputusan kita, jika mengambil keputusan mengampuni yah kita menjadi orang pemaaf dan juga jiwa, dan pikiran kita menjadi damai sejahtera karena tidak ada rasa emosi, atau dendam, dan membuat hidup kita menjadi dewasa.
(Kolose 3:13  Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.)

Daftar Pustaka :
- For Give To Live (Bagaimana Pengampunan Membuat Hidup Lebih Sehat).
Penerbit : Gloria Graffa Pengarang : DR.Dick Tibbits, and Steve Halliday
- Menang Atas Luka Batin.
Penerbit : Bethlehem Pengarang : Stormie Omartian.

Thursday, May 31, 2012

Pernikahan, dan Perceraian


PENDAHULUAN
            Arti nikah Kristen bukanlah sesuatu yang dapat dihapalkan atau didoktrinasikan kepada anggota jemaat.Arti nikah Kristen itu tidak sama bagi setiap manusia dan banyak segi dari pengertian  itu  sendiri. Ada segi bahwa dalam hidup perkawinan, manusia itu diselamatkan dari suatu kesepian yang tidak tertahan maka diberikan kepada manusia itu seorang  penolong ataupun seorang “teman” (Kej 2:18). Adapun segi yang lainnya bahwa perkawinan (pernikahan), berarti manusia mendapat kemungkinan untuk membentuk secara bertanggung jawab dalam suatu keluarga. Ada kemungkinan untuk menerima anak-anak, yang boleh dididik dan dibimbing kepada kedewasaan.

PELAYANAN PASTORAL PERNIKAHAN
            Adapun pengertian dari pelayanan pastoral pernikahan tersebut antara lain:
1)      Membicarakan bersama arti pernikahan Kristen.
2)      Membicarakan bersama arti keluarga Kristen.
3)      Membicarakan bersama kebaktian pernikahan.
 
1)         Membicarakan bersama arti pernikahan Kristen
[1] Beberapa psikolog, konselor pernikahan dan hamba Tuhan menyatakan bahwa pernikahan adalah sebuah perjanjian, dan banyak orang dengan cepat menyetujuinya. Dalam setiap perjanjian, ada persyaratan tertentu. Perjanjian tersebut di antara dua pihak, dimana melibatkan tanggung jawab kedua pihak untuk menepati bagian mereka sesuai dengan kesepakatan.  Maka pernikahan adalah perpaduan emosi  dua pribadi yang saling berfungsi, meskipun keduanya tetap memegang teguh jati diri masing-masing “satu daging” (Kej 2:24).
  Pernikahan Kristen berarti melibatkan lebih dari sekadar perpaduan dua manusia. Secara khusus hadir didalamnya Pribadi Ketiga, yakni Yesus Kristus; yang memberi makna, bimbingan dan arah pada hubungan itu. Jika Yesus Kristus yang mengepalai suatu pernikahan, maka pernikahan itu menjadi pernikahan Kristen.
Pandangan Alkitab tentang pernikahan
[2]Apakah tujuan Allah dengan pernikahan? Salah satu tujuan dasar adalah prokreasi yakni untuk melahirkan anak-anak ke dunia. Allah menciptakan manusia, menurut gambar dan citraNya, dan kemudian berfirman: “Beranak-cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu..” (Kej 1:28)
            Namun pernikahan lebih dari sekadar prokreasi, memelihara dan mendidik anak.               Kej 2:18-25 menegaskan bahwa pernikahan adalah gagasan Allah dan bahwa Dia mempunyai beberapa tujuan dalam pikiranNya. Maksud Allah merancang pernikahan antara lain:
1)      Untuk persahabatan.
Allah mencipta manusia untuk hidup dengan orang lain, dan “orang lain” yang pertama itu adalah wanita.
2)      Untuk kepenuhan.
Allah mencipta wanita untuk menjadi seorang penolong yang sepadan dengan dia.
            Maka, persahabatan dan kepenuhan yang dimaksud Allah dalam pernikahan, tumbuh dari adanya “komunikasi” di antara dua orang yang setiap hari saling berbagi arti hidup.
  1. Membicarakan bersama arti keluarga Kristen
Dalam keluarga dibutuhkan beberapa hal antara lain[3]:.         
a.                                                                                         Hubungan suami-isteri : dalam hidup perkawinan, suami merupakan sumber kebahagiaan bagi istri, dan istri bagi suaminya. Hal itu berarti, bahwa sesudah lama menikah pun, yaitu setelah mereka memiliki banyak anak dan tidak muda lagi, mereka harus saling memelihara diri.
b.                                                                                         Hubungan orangtua-anak: hubungan orangtua dan anak-anak adalah bersifat kasih dan tanggung jawab dari pihak orangtua, dan itu dijawab dengan kasih dan ketaatan dari pihak anak-anak.

3)    Membicarakan bersama kebaktian pernikahan
       Terkadang terjadi diantara kedua mempelai itu sendiri merasa sangat tegang dan gugup  dalam suatu kebaktian pernikahan yang sedang berlangsung, sehingga mereka jarang dapat memusatkan perhatiannya kepada khotbah pernikahan. Maka, konselor (gembala) sebaiknya meneliti tatacara kebaktian pernikahan tersebut dari semula dengan kedua calon mempelai itu.
       [4]Dan ada baiknya, kalau kedua mempelai itu tahu persis, kapan dan apa yang akan mereka jawab, kapan mereka harus berlutut, berdiri, mengucapkan janji nikah dan sebagainya. Maka, suatu kebaktian pernikahan adalah suatu pesta untuk seluruh jemaat.
FAKTOR-FAKTOR YANG MENENTUKAN KEBAHAGIAAN DALAM PERKAWINAN
1.                            Kepribadian dan kedewasaan pasangan berperan sangat penting.
2.                            Adanya persiapan untuk perkawinan berperan sangat penting.
3.                            Suami-istri harus sepaham tentang soal keluarga yang bertanggung jawab.
4.                            Suami-istri hendaknya tetap saling menarik, dan saling memperhatikan.
Di dalam Alkitab sendiri, terdapat banyak petunjuk dan cara yang dapat digunakan dalam pernikahan agar pernikahan tetap kokoh:
©      Saling mengasihi.
©      Saling mengampuni.
©      Salingmenguatkan/ membangun.
©      Saling memahami.
©      Saling menghargai.
©      Alkitab adalah satu-satunya pedoman keluarga.
©      Kesetaraan dan bukan penaklukan.
©      Jangan meremehkan pasangan.
©      Menjaga kesantunan.
©      Mendahulukan persembahan kepada Tuhan.
[5]Berikut adalah masalah-masalah yang dapat terjadi dalam pernikahan:
1.      Komunikasi yang tidak sehat.
2.      Hubungan dengan keluarga dan orangtua menjadi tidak hrmonis.
3.    Ketegangan hidup karena perbedaan pandangan, tugas rumah tangga, dan kebutuhan pribadi.
4.    Adanya perasaan takut ditolak, baik oleh suami maupun istri.
5.    Tidak berterus terang dan terlalu banyak berpura-pura.
6.    Adanya  perasaan bersalah kerena perbuatan masa lalu yang tercela.
7.    Padamnya hasrat seksual, disebabkan faktor  fisiologis maupun psikologis.
8.    Kesibukan.
9.    Stress dan depresi.
10.  Masalah kesehatan.
                                                                                                    







Pengertian Perceraian adalah berakhirnya suatu pernikahan. Saat kedua pasangan tak ingin melanjutkan kehidupan pernikahannya, mereka bisa meminta pemerintah untuk dipisahkan. Selama perceraian, pasangan tersebut harus memutuskan bagaimana membagi harta mereka yang diperoleh selama pernikahan (seperti rumah, mobil, perabotan, atau kontrak), dna bagaimana mereka menerima biaya, dan kewajiban merawat anak-anak mereka.[6]
Perceraian masih juga diijinkan tapi pernikahan ulang bagi pihak pecerai tidak diijinkan.

Paulus menasihati pasangan yang telah menikah supaya tetap mempertahankan pernikahannya, entahkah yang satu pihak masih belum menerima Kristus (percaya) ataupun sudah. Namun demikian, kalau pernikahan itu memang sudah tidak lagi dapat dipertahankan, maka inilah penjelasannya :
ð  Pihak pencerai yang sudah beriman itu (note : yang menceraikan pasangannya bukan demi alasan perzinahan) harus tetap hidup membujang atau berusaha rujuk dengan pasangan hidupnya. è (1 Korintus 7:10-11).
Kematian mengakhiri Nazar yang mengikat dalam Pernikahan.
Kematian mengakhiri kewajiban nazar pernikahan (1 Korintus 7:39).
Yesus tidak membenarkan perceraian, Ia menyatakan bahwa pria yang menceraikan isterinya menyebabkan mantan isteri itu dianggap sebagai berbuat zinah kalau menikah kembali, dan pria lain mengawininya juga dianggap berbuat zinah, namun ada suatu perkecualian, yaitu perzinahan.
“Tetapi Aku berkata kepadamu : Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah” (Matius 5:32),
“Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah (Matius 19:9)
Pernyataan-Nya diatas yang mengandung kekecualian yang satu itu dapat dipahami dalam Ulangan 22:13-21 è di situ hukum taurat menyatakan bahwa kalau seorang pria mengawini seorang wanita dan pada malam pertama mendapati keperawanannya ternyata sudah direnggut orang lain, maka si wanita itu harus dihukum mati dengan jalan dirajam batu. Ayat 22 è bahwa pelanggaran terhadap nazar pernikahan itu juga dapat dihukum mati. [7]
(jadi kalau hokum taurat itu dilaksanakan, berarti pihak yang bersalah dalam pernikahan itu mati. Kalau tekanan yang diperhatikan, Kematian memutuskan ikatan pernikahan.)
Apa penyebab perceraian itu terjadi ?
1.      Karena Pernikahan Usia Muda[8]
Dalam pernikahan ini jika kalau muda berusia belasan tahun itu masih kekanak-kanakan. Secara Emosi mereka belum dewasa, dan jauh dari siap menghadapi beraneka ragam masalah kehidupan berumah tangga yang rumit seluk-beluknya.
2.      Karena Seks sebelum nikah.
ð  Seks sebelum menikah adalah percabulan dan melanggar hukum Allah.
ð  Seks diluar nikah setelah menikah timbulnya rasa tidak percaya, dan memulai menuduh bahwa pasangan hidupnya berlaku tidak setia.
3.      Karena tidak mempunyai keturunan. [9]
Karena adanya suatu permasalahan kemandulan dari Suami, atau Istri. Sehingga tidak menghasilkan keturunan, sehingga adanya tekanan dari Mertua, atau sanak Saudaranya. Menjadi bahan pembicaraan keluarga. è sehingga timbul pertanyaan siapa yang akan menerusi warisanku? Ini yang menyebabkan terjadinya perceraian.
4.      Karena Pasangan yang selingkuh.
Karena adanya rasa pengkhianatan atau rasa sakit hati pada seorang yang diselingkuhkannya, dan diberikan pengampunan kepada Suami, atau Istri, tetapi Perselingkuhan terjadi kembali. Sehinga lebih baik bercerai, dan hidup tenang.
5.      Karena Penganiayaan.
Adanya kekerasan dalam Rumah tangga, penganiayaan Fisik atau batin yang menjadi bekas kepada pasangannya sehingga pasangan ingin bercerai, karena tidak tahan dan berpikir lebih baik bercerai dan tidak menikah lagi. (Hal ini biasa terjadi pada Isteri).
6.      Karena Dia pergi begitu saja.
Tidak mengetahui pergi kemana Pasangan hidupnya, apakah masi Hidup, atau Mati? Apakah sudah menikah lagi? Sehingga bingung terhadap statusnya seorang janda, atau isteri seorang. Dari pada mati tua, dan sia-sia menunggu sesuatu tidak jelas, dan mengambil keputusan untuk bercerai.
7.      Karena Dia tidak mencintaiku.
Tidak terpenuhinya kebutuhan batin (sex), Karena Sang istri seorang Perempuan Karier, atau sang Suami Pembisnis. Sehingga seringkali lebih memikirkan perkerjaan dari pada kebutuhan batin dalam pasangannya.

Melayani orang-orang yang bercerai
Sebelum kita masuk dalam proses Konseling, kita perlu hati-hati terhadap beberapa langkah dan prosedur hukum dalam perceraian, dan kita (jika perlu) mempunyai pengacara Kristen yang mampu, dan jujur yang kepadanya anda dapat merujuk orang-orang yang menghubungi anda. Jangan berusaha menjawab pertanyaan yang menyangkut hokum, tetapi doronglah orang untuk mencari pertolongan kepada seorang pengacara. [10]
Dalam hal ini ada petunjuk untuk penyelesaian konflik, petunjuk itu adalah[11] :
1.       Penyelesaian konflik diawali dengan Persiapan hati. Sebelum mendekati seseorang, Anda harus mempersiapkan hati.
2.      Komunikasi terbuka. Ungkapan pemikiran, dan perasaan Anda secara jujur mengenai masalah tersebut.
3.      Kita perlu memperhatikan dan mencari ada seberapa banyak perasaan dendam dan benci pada orang itu. Itulah hal pokok yang harus kita ketahui. Kemarahan karena perasaan terluka dan penolakan itu merupakan hal yang wajar , tetapi ada waktunya hal itu harus diselesaikan.
4.      Kemudian buat Keputusan yang jelas. Rencanakan jenis tindakan yang harus dilakukan agar situasi menjadi baik.
5.      Masuki tahap terpenting yaitu, Mengampuni. Pengampunan mengawali proses penyembuhan, dan penyelesaian konflik yang benar.
6.      Dan akhirnya membutuhkan Kepercayaan untuk mengakhiri konflik. Berhenti pada tahap mengampuni tidak menyelesaikan masalah, terutama jika masalah yang ada merupakan kasus besar, dan berulang kali terjadi.
  




DAFTAR PUSTAKA :
-          Wikipedia bahasa Indonesia, (Perceraian).
-          H.Norman Wright, Membantu orang dalam Krisis dan Stres. Penerbit Yayasan Gloria Yogyakarta
-          Dr.Gary Rosberg, Choosing to Love Again. Penerbit Andi
-          Gordon Lindsay, (Pernikahan, perceraian, dan pernikahan ulang). Penerbit IMMANUEL
-          Ir.Jarot Wijanarko, Perceraian Aku mau menikah lagi. Penerbit Suara Pemulihan 2007
-          H. Norman Wright. Komunikasi –Kunci Pernikahan Bahagia. Penerbit Yayasan Gloria Yogyakarta
-          DR. M.Bons-Storm. Apakah Penggembalaan Itu? PT BPK.Gunung Mulia.
-          Ferdinand Edu, M.Th. Pastoral Konseling- penerbit STT-Bethel Indonesia 2010








[1] H. Norman Wright. Komunikasi –Kunci Pernikahan Bahagia. Penerbit Yayasan Gloria Yogyakarta: hal.20-22
[2] Ibid.hal.24
[3] DR. M.Bons-Storm. Apakah Penggembalaan Itu? PT BPK.Gunung Mulia. Hal 164-168
[4] Ibid hal.169-151
[5] Ferdinand Edu, M.Th. Pastoral Konseling- penerbit STT-Bethel Indonesia 2010-hal 97-99
[6] Wikipedia bahasa Indonesia, (Perceraian).
[7] Gordon Lindsay, (Pernikahan, perceraian, dan pernikahan ulang) hlm 15-16
[8] Gordon Lindsay, (Pernikahan, perceraian, dan pernikahan ulang) hal 25-26.
[9] Ir.Jarot Wijanarko, Perceraian Aku mau menikah lagi, hlm  8-18
[10] H.Norman Wright, Membantu orang dalam Krisis dan Stres, hlm 187
[11] Dr.Gary Rosberg, Choosing to Love Again, hlm 9